Pengantar Ekonomi Makro

Makalah

Tentang

“ Pengaruh krisis Ekonomi 2008 Terhadap indonesia  “

Di susun Oleh :

SITI ROMLAH ( 110231100091 )

Ekonomi Pembangunan / Kelas C

UNIVERSITAS TRUNOJOYO MADURA

LATAR BELAKANG

                Sistem Ekonomi Amerika Serikat dibawah kepemimpinan presiden George Walter Bush dari partai Republik menganut sistem liberal yang benar-benar liberal. Membiarkan mekanisme pasar mengatur perekonomian tanpa campur tangan pemerintah. Nampaknya hal ini dapat dijadikan salah satu pemicu krisis ekonomi yang terjadi di Amerika Serikat. Karena ketergantungan yang terlalu besar pada pasar maka ketika pasar jatuh ekonomi negara pun ikut jatuh.

Krisis ekonomi yang terjadi di Amerika Serikat belakangan ini nampaknya tidak hanya berdampak pada perlambatan pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat saja namun juga perlambatan pertumbuhan ekonomi negara lain. Masalah awal krisis ini setelah masalah sistem ekonomi yang terlalu bebas ialah adanya kemacetan kredit di sektor perumahan. Masalah juga timbul karena maraknya kasus pemberian bonus pada mereka yang mampu dan berhasil meminjamkan dana besar-besaran ke sektor properti tanpa memeprtimbangkan kemampuan mengembalikan dana perusahaan atau pihak yang menerima pinjaman tersebut. Hanya karena tergiur oleh adanya bonus maka para pemilik modal tanpa ragu meminjamkan dana tersebut. Dana besar telah dikucurkan di sektor perumahan yang digunakan untuk membangun di sektor perumahan.

Namun kenyataannya pembangunan besar-besaran yang disertai dana besar itu tidak disertai daya serap pasar sehingga tak laku jual dan akhirnya menimbulkan kerugian dan tidak mampu mengembalikkan pinjaman. Banyak perusahaan besar di Amerika Serikat yang terjerat hutang dan beresiko bangkrut. Ketidakmampuan para perusahaan atau pihak peminjam untuk mengembalikkan  pinjaman yang berimbas pada macetnya rangkaian kerja dari sistem keuangan dunia, penarikan modal oleh para investor yang khawatir dengan keadaan ekonomi global serta diikuti oleh anjlok nya harga saham di berbagai bursa saham mengakibatkan adanya perlambatan pertumbuhan ekonomi di berbagai negara di dunia.

Krisis ekonomi Amerika Serikat kini telah berubah nama menjadi krisis global dan memberikan efek domino pada bidang-bidang dan negara lain. Karena yang merasakan dampaknya bukan hanya Amerika Serikat tapi juga negara lain seperti negara-negara di Eropa (apalagi yang termasuk 9 sekutu Amerika Serikat), Asia termasuk Indonesia yang terkena imbas pada melemahnya nilai rupiah terhadap dolar Amerika Serikat, yang akhirnya membawa berbagai dampak dalam berbagai bidang dan kebijakan yang diambil oleh pemerintah Indonesia.

Parahnya efek domino yang ditimbulkan oleh krisis ekonomi di Amerika Serikat yang kini menjadi krisis global, khususnya di Indonesia menjadi alasan utama saya untuk mengangkat topik mengenai krisis global dan pengaruh yang ditimbulkan khususnya di Indonesia. Saya pikir sangat penting bagi kita semua sebagai masyarakat dunia yang peduli akan dunia ini untuk mengetahui, memahami, dan memberikan kontribusi berupa solusi bagi masalah krisis ekonomi global yang juga kini tengah dihadapi Indonesia.

Maka saya menyusun tulisan ini dengan judul ”Pengaruh Krisis Ekonomi 2008 Terhadap Indonesia”. Tulisan ini bertujuan membantu memberikan pemahaman mengenai permasalahan krisis global yang sedang kita hadapi. Disamping untuk memenuhi tugas mata kuliah Pengantar Teori Ekonomi Makro.

RUMUSAN MASALAH

  1. Apa itu krisis ekonomi?
  2. Bagaimana kondisi ekonomi Amerika Serikat sebelum  mengalami krisis ekonomi?
  3. Apa Penyebab timbulnya krisis ekonomi 2008?
  4. Bagaimana dampak dari krisis ekonomi 2008 di  Amerika Serikat?
  5. Apa penyebab krisis ekonomi 2008 bisa menjalar ke seluruh dunia?
  6. Bagaimana dampak krisis ekonomi terhadap perekonomian Indonesia?

TUJUAN

1.Untuk mengetahui krisis ekonomi.

2. Untuk mengetahui  kondisi ekonomi Amerika Serikat sebelum  mengalami krisis ekonomi.

3. Untuk Mengetahui Penyebab timbulnya krisis ekonomi 2008.

4.Untuk mengetahui dampak dari krisis ekonomi 2008 di  Amerika Serikat.

5. Untuk mengetahui penyebab krisis ekonomi 2008 bisa menjalar ke seluruh dunia.

6.Untuk mengetahui dampak krisis ekonomi terhadap perekonomian Indonesia.

ANALISIS MASALAH

Pengertian krisis Ekonomi.

krisis adalah istilah lama dalam teori siklus bisnis, merujuk pada perubahan tajam menuju resesi.

Ekonomi merupakan salah satu ilmu sosial yang mempelajari aktivitas manusia yang berhubungan dengan produksi, distribusi, dan konsumsi terhadap barang dan jasa. Istilah “ekonomi” sendiri berasal dari bahasa Yunani, yaitu οἶκος (oikos) yang berarti “keluarga, rumah tangga” dan νόμος (nomos) yang berarti “peraturan, aturan, hukum“. Secara garis besar, ekonomi diartikan sebagai “aturan rumah tangga” atau “manajemen rumah tangga.” Sementara yang dimaksud dengan ahli ekonomi atau ekonom adalah orang menggunakan konsep ekonomi dan data dalam bekerja.

Yang dimaksud dengan krisis ekonomi adalah kekacauan yang hebat dalam pengelolaan segala urusan kekayaan negara yang memerlukan pengerahan segala daya upaya untuk menghilangkannya dan untuk mengembalikan kondisinya ke kondisi yang stabil dan seimbang.

Krisis ekonomi 2008 di sebut juga dengan Krisis Subprime Mortgage di Amerika Serikat (AS). Krisis ekonomi yang terjadi di Amerika Serikat menghenyakan banyak orang. Banyak yang terkejut mengapa negara sebesar Amerika Serikat bisa mengalami krisis ekonomi atau moneter yang merontokan pasar saham dan keuangan di Amerika Serikat dan Bahkan di dunia.

Kondisi Negara AS sebelum Krisis Ekonomi 2008

Pada 2001-2005, pertumbuhan perumahan di Amerika Serikat menggelembung seiring rendahnya suku bunga perbankan akibat kolapsnya indutri dotcom. Sejak 1995, industri dotcom (saham-saham teknologi) di AS lebih dulu booming, namun kolaps dan menyebabkan banyak perusahaan jenis ini tak mampu membayar pinjaman ke bank.

Penyebab Timbulnya Krisis Ekonomi 2008.

Saat bisnis perumahan mulai booming pada tahun 2001 ini, banyak warga AS berkantong tipis yang membeli rumah murah melalui skema subprime mortgage (KPR murah). Pada tahun 2006, ketika koreksi pasar mulai menyentuh gelembung bisnis perumahan di AS, ekonom Universitas Yale, Robert Shiller memperingatkan bahwa harga rumah akan naik melebihi aslinya.

Koreksi pasar ini, menurutnya, bisa berlangsung tahunan dan menyebabkan penurunan nilai rumah-rumah tersebut hingga muliaran dolar AS. Peringatan itu mulai terbukti ketika pada akhir 2006, sebanyak 2,5 juta warga AS yang membeli rumah melalui skema tadi tak mampu membayar cicilan. Harga rumah yang mereka kredit melambung tinggi, bahkan ada yang sampai 100% dari nilai awalnya. Akibatnya, menurut laporan perusahaan penyedia data penyitaan rumah di AS, RealtyTrac, sebanyak itu pula, rumah yang akan disita dari penduduk AS.

RealtyTrac mencatat pengumuman lelang sebanyak 179.599 yang mencakup 2,5 juta rumah yang dinyatakan disita karena gagal bayar. Ini adalah jumlah penyitaan terbanyak selama 37 tahun. Penyitaan besar-besaran ini jelas dapat menimbulkan banyak warga AS menjadi tuna wisma mendadak, dan bisa menjadi masalah sosial baru.

Tidak semua warga negara AS memiliki uang yang cukup untuk membeli rumah atau memiliki sejarah kredit yang baik. Kebanyakan dari mereka adalah pengangguran, pekerja-pekerja seperti office boy, pedagang kecil, dan pembersih rumah atau kantor (mirip pemberian kartu kredit yang jor-joran di Indonesia, seorang office boy punya 2 sd 5 kartu kredit).

Sebenarnya, mereka dianggap tidak layak mendapatkan pinjaman untuk memiliki rumah murah, karena sejarah kreditnya kurang baik dan tidak memiliki pendapatan yang cukup untuk mencicil. Untuk itulah diadakan subprime mortgage.

Pembiayaan jenis ini sebenarnya berisiko, baik bagi kreditor maupun debitor, karena bunganya yang tinggi, sejarah kredit peminjam yang buruk, dan kemampuan keuangan peminjam yang rendah. Kamus online Wikipedia menjelaskan, Subprime Lenders (Pemberi pinjaman), biasanya adalah lembaga pembiayaan perumahan, mengumpulkan berbagai utang itu (pool) dan menjualnya kepada bank komersial. Oleh bank komersial, sebagian portofolio tersebut dijual lagi kepada bank investasi. Oleh bank investasi, kumpulan utang tersebut dijual kepada investor di seluruh dunia seperti bank komersial, perusahaan asuransi, maupun investor perorangan.

Kumpulan utang tersebut dinamakan Mortgage-Backed Securities (MBS) yang merupakan bentuk utang yang dijamin. MBS ini termasuk salah satu bentuk transaksi derivatif yang penuh risiko. Ketika pembeli rumah membayar bunga, baik pada cicilan bulanan atau pada saat pelunasan, pembeli MBS mendapat pendapatan. Layaknya transaksi derivatif lain, MBS bisa dibeli dari tangan pertama atau berikutnya. Artinya, investor yang sudah membeli MBS bisa menjualnya lagi ke investor lain. Perolehan pendapatan dibagi menurut jenjang atau senioritas pembeli MBS ini. Dan ini menjadi beban seluruhnya bagi pembeli rumah. Ini membuat nilai yang harus dibayar pembeli rumah melambung tinggi hingga 100% dari nilai aslinya.

Meskipun tergolong kredit berisiko tinggi, bank investasi dan hedge fund (HF) tetap memainkan instrumen ini, karena para investor dari golongan pemain baru banyak yang tertarik membeli MBS. Ditambah lagi ada dukungan pemeringkatan yang dibuat lembaga seperti Standard & Poor’s (S&P).

Akibatnya, menjelang 2007, pembeli rumah dengan skema ini tak sanggup mencicil kredit rumah murah tersebut lantaran semakin sulitnya perekonomian AS. Ketika ini terjadi, satu-satunya jaminan bagi MBS adalah rumah-rumah itu sendiri. Namun, karena penawaran perumahan ternyata melebihi permintaan seiring gelembung industri perumahan dalam 2001-2005, nilai rumah-rumah itupun turun, tidak sesuai lagi dengan nilai yang dijaminkan dalam MBS. Sementara bank investasi dan HF harus tetap memberi pendapatan berupa bunga kepada para investornya. Inilah asal mula terjadinya krisis subprime mortgage yang berimbas ke seluruh dunia.

Dampak Dari Krisis Ekonomi 2008 Di  Amerika Serikat.

Pemilik surat utang Subprime Mortgage bukan hanya perbankan di Amerika Serikat, tapi juga perbankan di Australia, Cina, India, Taiwan, dan negara-negara lainnya. Dampaknya, harga saham perbankan di seluruh dunia jatuh. Hal ini pun menyulut kekhawatiran para pelaku pasar, karena bermasalahnya bank akan berdampak pada melemahnya kegiatan perekonomian.

Peraturan Bank Indonesia tidak memungkinkan perbankan membeli surat utang berperingkat rendah sehingga perbankan Indonesia tidak memiliki surat utang subprime mortgage. Akan tetapi, karena harga saham perbankan di negara tetangga jatuh, investor asing juga menjual saham perbankan dan nonperbankan di Indonesia. Investor lokal akhirnya juga ikut melakukan aksi jual. Apalagi harga saham dan harga obligasi di Indonesia sudah naik banyak, maka investor pun melakukan aksi ambil untung. Inilah yang menyebabkan harga saham turun, imbal hasil obligasi naik (harga turun) dan kurs rupiah melemah, bahkan minat terhadap penawaran saham BNI juga sempat terganggu.

Sterilnya perbankan dan korporasi Indonesia dari kepemilikan subprime mortgage menyebabkan dampak krisis pada pasar keuangan domestik berupa pelepasan surat berharga domestik terutama SUN dan SBI oleh investor asing. Pada bulan Juli dan Agustus 2007 terjadi penurunan kepemilikan asing pada SUN dan SBI yang cukup signifikan. Investor asing diperkirakan equity friendly dan cenderung mengalihkan penanaman dari SUN pada equity atau risk free treasury bill. Hal ini terkait dengan tingginya supply risk SUN atas potensi penurunan SUN valas akibat kenaikan premi resiko dan peningkatan SUN rupiah. (Neraca Pembayaran Indonesia 2007)

Pada bulan Agustus 2007, harga-harga saham di BEJ (Bursa Efek Jakarta) mengalami koreksi, akibat masih berlanjutnya tekanan di bursa Wall Street dan regional, menyusul meluasnya dampak krisis subprime mortgage di dunia. Banyaknya koreksi mengaibatkan IHSG turun 89,112 poin atau 4,11 % pada satu jam pertama perdagangan tanggal 15 Agustus 2007.

Turunnya IHSG memicu melemahnya nilai tukar rupiah saat itu, dari Rp 9000 menjadi Rp 9400. Dow Jones Industrial Average juga kehilangan 207,61 poin atau turun 1,57 %. Masih dalam periode waktu yang sama, indeks Nikkei mengalami kemerosotan 267,22 poin. Penurunan drastis ini dapat dilihat dalam grafik perkembangan pasar modal di Asia Pasifik dan pasar modal di Barat dan Jepang.

Koreksi besar-besaran yang terjadi akibat krisis subprime mortgage ini juga merambat ke sektor-sektor lainnya. Kepanikan antara Februari – Maret 2007 menyebabkan saham-saham dari sektor mortgage (hipotek) -19%, sektor finansial -10%, dan semua bidang -6%. Kemudian pada Juni-Juli 2007 saham-saham mortgage turun lagi hingga -41%, dan saham-saham keuangan -18%.

Dampak subprime mortgage Amerika Serikat di Indonesia memang sebesar dampaknya pada negara-negara lain, karena adanya peraturan BI yang tidak memungkinkan perbankan membeli surat utang berperingkat rendah. Namun, sebenarnya dampak krisis finansial ini masih tersisa di dunia.

Pada 3 Maret 2008, tempointeraktif. com menyebutkan bahwa pasar saham Asia jatuh setelah UBS AG memprediksikan bahwa perusahaan keuangan global kemungkinan akan kehilangan sekitar US$ 600 miliar karena kredit macet hipotek perumahan subprime mortgage di Amerika Serikat. Westpac Banking Corp. merugi 3,3 persen sedangkan Macquarie Group Ltd. kembali tergelincir di hari ketiga. Pemasukan uang dalam perdagangan Amerika menurun 4,7 persen dari penutupan saham di Tokyo 29 Februari 2008, dimana Sony Corp. rugi 3,6 persen, setelah Yen menguat terhadap dolar, sehingga mengurangi pendapatan di luar negeri. Index Australia anjlok S&P/ASX 200 hingga 2,9 persen menjadi 5,410.90 pada pukul 10.12 di Sydney. Index New Zealand’s NZX 50, yang menjadi patokan Asia untuk memulai perdagangan, turun 1,1 persen menjadi 3,542.16 di Wellington.

Penyebab Krisis Ekonomi 2008 Menjalar Ke Seluruh Dunia.

Bermula dari tumbangnya beberapa perusahaan besar di Amerika yang bangkrut karena macetnya pembayaran kredit perumahan. Macetnya kredit mengakibatkan kerugian di pihak kreditor dan mengganggu aktivitas rangkaian sistem kerja keuangan Amerika Serikat dan dunia. Macetnya kredit mmembuat para investor ingin menarik investasinya dan membuat perolehan laba di lembaga keuangan menurun akibat adanya ketidakpercayaan konsumen.

Lehman Brothers Inc merupakan perusahaan sekuritas keempat terbesar di Amerika Serikat. [1]Lehman menderita bangkrut karena tidak mampu membayar utang senilai 613 miliar dollar Amerika Serikat kepada kreditor. Kebangkrutan Lehman ini mempengaruhi banyak simpul ekonomi di berbagai negara. Karena Lehman Brother sebelumnya menerima suntikan dana dari para investor dari berbagai belahan dunia termasuk juga bank dunia yang memberikan pinjaman dana besar kepada Lehman dan kini terkena imbas kebangkrutan Lehman, yang akhirnya mulai mengganggu sistem keuangan dunia.

[2]Maka dari itu kebangkrutan Lehman membuat Amerika Serikat menyuntikkan dana sebesar 70 miliar dollar AS, Bank Sentral Eropa 99,4 miliar dollar AS, Bank Inggris 35,6 miliar dollar AS, Bank Nasional Swiss 7,2 miliar dollar AS dan Bank Jepang 24 miliar dollar AS.

Berbagai suntikan dana di atas harus dilakukan oleh berbagai pihak untuk mengantisipasi kebangkrutan yang lebih parah lagi terhadap Lehman dan memberikan dana bagi para investor yang menarik investasinya. Suntikan dana juga bertujuan menjaga transaksi bisnis seperti pembiayaan perdagangan lintas dunia.

Kebangkrutan lainnya juga dialami Worldcom Inc dan Enron Corp dengan kasus yang mirirp dengan kebangkrutan yang dialami Lehman Brothers Inc.

Efek krisis global ekonomi yang diderita Amerika Serikat ini memeiliki efek domino yang sangat kuat. Krisis ekonomi yang awalnya hanya diderita Amerika Serikaat saja kini mulai merembet ke negara lain terutama negara berkembang yang masih membutuhkan bantuan dana interansional, dengan adanya krisis ini secara langsung bantuan internasional akan dikurangi guna mencegah krisis ekonomi dunia yang berlarut-larut. Macetnya ekspor, hilangya likuiditas beberapa bank, pemutusan tenaga kerja, pudarnya kepercayaan investor dan konsumen, dan anjloknya perolehan laba di berbagai sektor keuangan karena adanya pemangkasan suku bunga, otomotif, penerbangan yang tidak kalah pentingnya ialah jatuhya berbagai indeks saham di berbagai bursa Eropa, Asia dan Amerika Serikat itu sendiri meruapakan dampak umum krisis global.

Krisis ekonomi yang terjadi di Amerika Serikat juga merupakan pemicu adanya resesi di bidang investasi, perdagangan, bantuan serta kepercayaan konsumen pada negara lain seperti India, Cina, Brasil dan Rusia. Negara lain yang terkena imbas nya juga ialah Jepang pada sektor ekspor yang anjlok, negara-negara di Eropa seperti Inggris, Belanda, Swiss yang penerimaan laba pada lembaga keuangannya ikut anjlok dan kehilangan likuiditasnya karena adanya ketidakpercayaan konsumen. Pada dasrnya semua negara yang pernah menjadi invetsor bagi Lehman termasuk bank dunia kini terkena imbas kebangrutan Lehman, hal itu berarti mereka juga merasakan krisis yang dialami Lehman di Amerika Serikat.

Menghadapi itu semua negara-negara di dunia terus mengadakan upaya penyelamatan lewat dialog. Melalui G-20, APEC, OPEC, dan berbagai organisasi lainnya.

Dampak krisis Ekonomi Terhadap perekonomian Indonesia.

1.                  Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, adanya fluktuasi. Hal ini disebabkan karena krisis global yang terjadi di Amerika Serikat membuat para investor secara bersamaan melepas saham di bursa kemudian mengkonversi dananya ke dollar AS, adanya aturan baru mengenai harus  adanya tujuan yang jelas untuk pembelian valas di atas 100.000 dollar AS, aturan itu diberlakukan oleh Bank Indonesia dan direspon beragam oleh masyarakat luas. Ada yang panik sehingga mereka justru membororng dollar, nasabah yang memiliki dollar pun tidak mau mengkonversikan dollar AS mereka ke rupiah karena khawatir nantinya akan kesulitan mendapatkan dollar. Hal-hal tersebut membuat pasokan dollar AS di pasar semakin terbatas sementara permintaan semakin tinggi. Hal tersebut memacu lemahnya nilai jual rupiah terhadap mata uang asing, salah satunya dollar dan yen.

2.                  Labilnya pergerakan indeks saham yang cenderung menurun di Bursa Efek Indonesia yang berdampak pada sepinya Bursa Efek Indonesia. Hal itu disebabkan anjloknya IHSG (Indeks Hasil Saham Gabungan) hingga 51,04 persen sejak Jnuari 2008 hingga akhir Oktober 2008, maka para investor yang telah mencabut investasinya belum percaya terhadap pasar modal yang belum pulih akibat krisis global. [3]Walaupun menurut pengamat pasar modal Felix Sinhunata sebenarnya keadaan fundamental perekonomian Indonesia dan emiten di Bursa Efek Indonesia tergolong stabil bahkan cukup banyak emiten yang menunjukkan kinerja operasional  dan keuangan yang meningkat namun itu semua tidak mampu mengalahkan faktor eksternal yaitu krisis global yang masih membayangi para investor.

3.                  Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan beberapa pihak terkait seperti Menteri Koordiantor Perekonomian dan Gubernur Bank Indonesia mengeluarkan sepuluh langkah pemerintah menghadapi krisis, yaitu:

            [4]Menjaga kesinambungan neraca pembayaran dengan mewajibkan semua BUMN (Badan Usaha Milik Negara) menempatkan semua valuta asingnya di Bank dalam negeri dalam satu kiring house.

Menjaga kesinambungan neraca pembayaran dan mempercepat pembangunan infrastruktur dengan kebijakan mempercepat pembangunan proyek-proyek yang sudah mendapat komitmen pembiayaan baik bilateral maupun multilateral.

Menjaga kestabilan likuiditas dan mencegah terjadinya perang harga. Menginstruksikan BUMN untuk tidak melakukan pemindahan dana dari bank ke bank.

Menjaga kepercayaan pelaku pasar terhadap SUN dengan melakukan stabilisasi pasar SUN. BUMN dilarang melakukan pembelian SUN di pasar sekunder.

Memanfaatkan hubungan bilateral swap arrangament dari Bank Jepang, Bank Cina, dan Bank Korea apabila diperlukan.

Menjaga kelangsungan ekspor dengan memberikan garansi terhadap resiko pembayaran bagi pembeli.

Menjaga sektor rill dengan mengurangi pungutan ekspor menjadi nol persen.

Menjaga keseimbangan fiskal 2009.

Mencegah impor ilegal.

Meningkatkan pengawasan barang beredar.

4.                  Pemerintah melalui Bank Indoensia mengambil alih kepemilikan Bank Century yang kekurangan modal akibat krisis global guna memberi rasa aman pada nasabah.

5.                  Pemberlakuan keharusan adanya tujuan yang jelas untuk pembelian valuta asing di atas 100.000 dollar AS per bulan guna mengurangi kegiatan spekulasi di pasar valuta asing.

6.                  [5]Para buruh tekstil di Surabaya sejumlah 7000 orang dirumahkan. Hal ini merupakan akibat dari adanya krisis global yang mengakibatkan nilai rupiah berfluktuasi dan gagalnya ekspor

7.                  Usaha tekstil di Bandung terpengaruh krisis global. Menurut Ketua Asosiasi Pertekstilan Indoensia, sebagian besar pabrik tekstil di Bandung kini telah merumahkan masing-masing sekitar 30 sampai 100 orang buruh nya.

8.                  600 Restoran asing kesulitan bahan baku. Hal ini diakibatkan krisis global dan ketatnya pengawasan bahan pangan impor.

9.                  Sekitar 1.400 buruh di Jawa Tengah (Semarang dan Solo) dirumahkan. Hal ini merupakan akibat dari pembatalan ekspor.

10.              Adanya rencana pengajuan Pemutusan Hubungan Kerja terhadap 12.600 pekerja di bidang manufaktur kepada pemerintah.

11.              Bertambahnya utang luar negeri.

12.              Kesulitan mendanai pembangunan dari pasar ekuiditas dan kredit internasional. Hal ini dikarena adanya krisis global sehingga perhatian dunia dialihkan pada usaha penyelamatan ekonomi dunia dan mengabaikan negara berkembang seperti Indonesia.

Melihat keadaan yang ada saat ini di Indonesia, sebenarnya layaklah jika dikatakan derita krisis global tak seharusnya menjadi derita Indonesia juga, dikarenakan fundamental ekonomi Indonesia sebagai negara berkembang yang cukup baik. Pada Kompas edisi Kamis, 20 November 2008 mencatat bahwa Indonesia merupakan korban tidak bersalah di urutan nomor satu dan meminta pada dunia untuk diprioritaskan.

Memang sudah sepantasnya permintaan itu diserukan Indonesia, karena seharusnya usaha penyelamatan ekonomi dunia khususnya Amerika Serikat juga harus tetap memeperdulikan perkembangan negara berkembang seperti Indonesia yang sebenarnya tak ikut ambil bagian dalam penyebab terjadinya krisis global.

Saya cukup setuju dengan langkah yang diambil pemerintah ditengah krisis global ini kita jangan lagi lari kepda Dana Moneter Internasional. Mengingat pengalaman buruk yang pernah terukir dengan Dana Moneter Internasional sepuluh tahun lalu hingga kini dampak jeratan hutang akibat kerja sama itu masih terasa.

Pemerintah telah mengambil langkah yang tepat dengan memperkuat hunbungan bilateral dan multirateral. Sehingga melalui hubungan itu kita tetap bisa mendapatkan kucuran dana yang sehat.

Sekarang tinggal keseriusan pemerintah saja dalam menjalankan semua kebijakan yang telah disepakati bersama. Kejujuran dalam mengalokasikan dana juga sangat diperlukan, tidak hanya demi mengatasi krisis global tapi juga demi percepatan pertumbuhan ekonomi Indonesia

 

PENUTUP

 

  1. Kesimpulan

Kemacetan kredit hanyalah alasan kedua adanya krisis global. Krisis global yang terjadi belakangan ini merupakan buah keteledoran sistem ekonomi Amerika Serikat yang terlalu tergantung dengan mekanisme pasar dan berdampak pada negara-negara lain termasuk Indonesia. Untuk itu diperlukan perubahan sistem ekonomi pada Amerika Serikat.

  1. Kritik

Sistem ekonomi yang digunakan Amerika Serikat dibawah kepemimpinan presiden George Walter Bush terlalu bebas dan tergantung pada pasar sehingga pada saat pasar jatuh ekonomi negara juga ikut jatuh. Di tengah krisis ekonomi yang sedang menjadi tren, seharusnya dunia tidak boleh mengabaikan kelangsungan hidup negara-negara berkembang seperti Indonesia. Hal itu tercermin dari besarnya dampak yang diterima oleh negara berkembang seperti Indonesia. Padahal krisis itu diakibatkan oleh mandeknya ekonomi Amerika Serikat. Namun dampaknya mempengaruhi pertumbuhan ekonomi di hampir semua negara di dunia apalagi negara berkembang seperti Indonesia.

  1. Saran

Kepada presiden terpiih Amerika Serikat sebaiknya mengganti sistem ekonomi yang ada dengan sistem ekonomi Keynesian, seperti acuan partai Demokrat, yang lebih mementingkan pengurangan pengangguran dan pengawasan pasar modal. 10 langkah yang dibuat oleh presiden, menteri koordinator perekonomian dan gubernur Bank Indonesia sebaiknya dijalankan semaksimal mungkin agar dampak krisis global dapat dikurangi dan membentuk perekonomian yang kuat dan tidak terlalu tergantung dengan negara lain. Agar nantinya di lain hari jika terjadi krisis global lagi kita sudah lebih siap.

 

DAFTAR PUSTAKA

Bisnis Indonesia, 17 Juni 2009 hal 7, “Boediono, demokrasi, dan ekonomi”

Bisnis Indonesia, 6 Juni 2009 hal 1, “IMF: Ekonomi RI membaik”

Kompas edisi Kamis, 20  November 2008 (halaman 17)

Kompas edisi Selasa, 11 November 2008 (halaman 17)

Kompas edisi Jumat, 24 Oktober 2008 (halaman 1,15)

http://www.ekonomirakyat.org/edisi_3/artikel_4.htm

http://www.depkeu.go.id/ind/Data/Artikel/dampak_perekonomian.htm

http://www.metris-community.com/dampak-krisis-ekonomi-global


[1] Kompas edisi Rabu, 17 September 2008 (halaman 1)

[2] Kompas edisi Rabu, 17 September 2008 (halaman 1)

[3] Kompas edisi Jumat, 24 Oktober 2008 (halaman 1, 15)

[4] Kompas edisi Rabu, 29 Oktober 2008 (halaman 1, 15)

[5] Kompas edisi Kamis, 20 November 2008 (halaman 22)

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: