Ekonomi Kependudukan

PERNIKAHAN DAN PENCERAIAN

Dalam demografi pertumbuhan penduduk antara lain dipengaruhi oleh fertilitas. Perkawinan dan perceraian merupakan variabel yang ikut mempengaruhi tinggi rendahnya tingkat fertilitas, yang secara tidak langsung mempengaruhi pertumbuhan penduduk. Dalam perencanaan pembangunan seperti penyediaan fasilitas perumahan bagi keluarga-keluarga muda, fasilitas pelayanan kesehatan, dan pelayanan dasar lainnya.

 

Apabila perkawinan dilakukan pada umur yang tepat, maka akan membawa kebahagiaan bagi keluarga dan pasangan suami dan istri yang menjalankan perkawinan tesebut.

Perkawinan yang dilakukan pada usia yang terlalu dini akan membawa banyak konsekuensi pada pasangan suami istri, antara lain adalah dalam hal kesehatan, pendidikan, dan ekonomi. Dalam hal kejiwaan, perkawinan yang dilakukan pada usia dini akan mudah berakhir dengan kegagalan karena kurangnya kesiapan mental menghadapi dinamika kehidupan berumah tangga dengan semua tanggung jawab, seperti antara lain tanggung jawab mengurus dan mengatur rumah tangga, mencukupi kebutuhan ekonomi rumah tangga, mengasuh dan mendidik anak.

 

Sedangkan perceraian justru akan mengurangi jumlah fertilitas, karena dengan adanya perceraian maka jumlah rumah tangga yang  produktif  berkurang dan dan tingkat hubungan suami isteri pun berkurang, sehingga tingkat fertilitas menurun.

 

Menurut Badan pusat statistik perkawinan adalah seeorang yang berstatus kawin apabila mereka terikat dalam perkawinan saat pencacahan, baik yang tinggal bersama maupun terpisah, yang menikah secara sah maupun yang hidup bersama yang oleh masyarakat sekelilingnya dianggap sah sebagai suami istri.

Perkawinan dianggap sah apabila dilakukan menurut hukum perkawinan masing-masing agama dan kepercayaan serta tercatat oleh lembaga yang berwenang menurut perundang-undangan yang berlaku.

Dalam demografi, status perkawinan dapat dibedakan menjadi status belum pernah menikah, menikah, pisah, pisah atau cerai, janda atau duda.

Perkawinan adalah salah satu bentuk ibadah yang kesuciannya perlu dijaga oleh kedua belah pihak baik suami maupun istri. Perkawinan bertujuan untuk membentuk keluarga yang bahagia sejahtera dan kekal selamanya. Perkawinan memerlukan kematangan dan persiapan fisik dan mental karena menikah / kawin adalah sesuatu yang sakral dan dapat menentukan jalan hidup seseorang.

Untuk melangsungkan perkawinan batas umur adalah hal yang sangat penting. Hal ini adalah disamping dalam melakukan suatu perkawinan menghendaki kematangan biologis juga memerlukan kematangan psikologis (Djoko, 1987:55).

Undang-Undang Perkawinan No.1 Tahun 1974 pada pasal 7 ayat 1 mengatakan: Perkawinan hanya diijinkan jika pihak pria sudah mencapai umur 19 tahun dan pihak wanita sudah mencapai 16 tahun.

Usia produktif yang berkaitan dengan kelahiran adalah wanita usia 15-49 tahun. Usia tersebut bagi wanita merupakan  masa subur. Semakin muda usia saat perkawinan pertama, semakin besar resiko yang dihadapi bagi keselamatan ibu dan anak, karena belum matangnya rahim wanita muda untuk merproduksi anak, atau karena belum siap mentalnya menghadapi masa kehamilan/kelahiran. Demikian pula sebaliknya semakin tua usia saat perkawinan pertama semakin tinggi resiko yang dihadapi dalam masa kehamilan/melahirkan (Efrilia, 2001:12).

 

 

Perceraian adalah suatu pembubaran yang sah dari suatu perkawinan dan perpisahan antara suami dan isteri oleh surat keputusan pengadilan yang memberikan hak kepada masing-masing untuk melakukan perkawinan ulang menurut hukum sipil dan agama, adat dan kebudayaan yang berlaku di tiap-tiap daerah.

Pada dasarnya semua ajaran agama yang baik tidak mengizinkan perceraian; yang membedakan satu dengan lainnya adalah pemahaman dan aturan-aturan yang telah ditetapkan oleh pemuka-pemuka agama bertahun-tahun silam.

Perceraian memang tidak pantas untuk dijadikan pilihan pertama, dalam menyingkapi ketidakharmonisan didalam perkawinan.

 

 

Faktor penyebab perceraian antara lain adalah sebagai berikut :

  1. Ketidakharmonisan dalam rumah tangga

Ketidakharmonisan bisa disebabkan oleh berbagai hal antara lain, krisis keuangan, krisis akhlak, dan adanya orang ketiga. Dengan kata lain, istilah keharmonisan adalah terlalu umum sehingga memerlukan perincian yang lebih mendetail.

  1. Krisis moral dan akhlak

Selain ketidakharmonisan dalam rumah tangga, perceraian juga sering memperoleh landasan berupa krisis moral dan akhlak, yang dapat dilalaikannya tanggung jawab baik oleh suami ataupun istri, poligami yang tidak sehat, penganiayaan, pelecehan dan keburukan perilaku lainnya yang dilakukan baik oleh suami ataupun istri, misal mabuk, berzinah, terlibat tindak kriminal, bahkan utang piutang.

  1. Perzinahan

Di samping itu, masalah lain yang dapat mengakibatkan terjadinya perceraian adalah perzinahan, yaitu hubungan seksual di luar nikah yang dilakukan baik oleh suami maupun istri.

  1. Pernikahan tanpa cinta

Alasan lainnya yang kerap dikemukakan oleh suami dan istri, untuk mengakhiri sebuah perkawinan adalah bahwa perkawinan mereka telah berlangsung tanpa dilandasi adanya cinta. Untuk mengatasi kesulitan akibat sebuah pernikahan tanpa cinta, pasangan harus merefleksi diri untuk memahami masalah sebenarnya, juga harus berupaya untuk mencoba menciptakan kerjasama dalam menghasilkan keputusan yang terbaik.

  1. Adanya masalah-masalah dalam perkawinan

Dalam sebuah perkawinan pasti tidak akan lepas dari yang namanya masalah. Masalah dalam perkawinan itu merupakan suatu hal yang biasa, tapi percekcokan yang berlarut-larut dan tidak dapat didamaikan lagi secara otomatis akan disusul dengan pisah ranjang.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: